Sebuah acara tribute, namun kali ini beda dari yang lain. Karena tribute yang satu ini lebih kepada tribute akan suatu era. Era di awal tahun 90an dimana pada era itu khususnya di belahan UK , bermunculannya band-band yang gemar memasukkan berlayer-layer unsur gitar pada setiap lagunya, penuh dengan overdrive, dan di gabungkan dengan reverb yang terkadang terdengar melebihi porsinya.
Malam itu saya datang sebagai salah satu pengisi acara dan sebagai penikmat acara. Sepanjang malam saya disuguhkan penampilan band-band yang membawakan lagu-lagu dari band-band shoegaze awal 90an. Sharesprings tampil sebagai band pembuka dengan membawakan lagu-lagu dari pale saints. Seperti sudah tidak asing, kendala teknis terhadap kepekaan akan sebuah balancing sudah menjadi hal yang biasa saat sharesprings tampil. A thousand stars burst open, babymaker, half life remembered, sight of you dan sebuah lagu milik sharespring sendiri yang berjudul ivory tower menjadi set list pembuka pada malam itu. Hawa 90an makin terasa ketika setiap pergantian band, DJ Davkillz memutar lagu-lagu dari band-band era 90an. Seperti Ride, Teenage fanclub, Dinosaur Jr, MBV, dan masih banyak lagi lainnya. Crowd penonton yang mulai padat dan merapat, menjadikan Prost yang menjadi tempat perhelatan pada malam itu terasa semakin panas. Damascus menjadi band kedua yang tampil pada malam itu. Suasana makin terasa 90an saat damascus menggeber lagu-lagu dari swervedriver sebuah band asal oxford, inggris yang terkenal dengan tatanan rambut dreadlocknya. Terlihat muka-muka tidak asing seperti Pandu dari the porno dan Richie ex the sastro dalam band bernama damascus ini. Avenue menjadi band pertama yang berasal dari luar jakarta yang tampil pada malam itu. Mereka membawakan lagu-lagu milik chapterhouse. Seolah-olah ingin membawa suasana 90an, sang vokalis memakai baju nirvana walaupun nirvana bukanlah band shoegaze. Penampilan keempat merupakan penampilan dari sebuah band yang cukup potensial yaitu Melon Yellow. Mereka membawakan nomor-nomor milik moose, sebuah band shoegaze asal london. Tak lupa mereka juga membawakan sebuah lagu andalan moose yang berjudul jack. Jelly Belly menjadi band kedua yang berasal dari Bandung setelah avenue. Suasana yang tadinya panas, penuh layer gitar dan feedback, tiba-tiba menjadi galau dalam balutan ethereal yang tercipta ketika jelly belly tampil membawakan lagu-lagu milik slowdive. Penonton yang sudah tidak asing lagi dengan lagu-lagu slowdive, sedikit bisa meregangkan otot sambil menikmati bir yang pada malam itu tidak habis-habisnya dipromosikan oleh pembawa acara. Jelly belly benar-benar memukau saya, walau diawal sempat terjadi kendala teknis karena sang gitars tidak ingin ada feedback sedikit pun saat tampil. Tapi mereka benar-benar membawa slowdive tampil di prost pada malam itu. Denial yang malam itu tampil dengan nama Negative Lovers menjadi satu-satunya band yang membawa nuansa punk pada malam itu. Mereka membawakan lagu-lagu milik The Jesus And Mary Chain dan satu nomor milik Primal Scream. Hentakan drum yang penuh reverb, noisy guitar dan provokasi dari seorang Toni mampu membuat para penonton ber-headbanging dan stage diving. Bahkan seorang Jimi The Upstairs tidak segan-segan untuk ambil bagian. Penampilan yang begitu maksimal menjadi nilai plus tersendiri bagi denial/negative lovers pada malam itu. Selepas denial/negative lovers adalah band yang saya tunggu-tunggu dari tadi. Mereka adalah Blossom Diary, yang akan membawakan tembang-tembang lawas milik Ride. Benar saja, begitu mereka naik ke atas panggung saya langsung menuju ke depan panggung dan mulai menyaksikan mereka membawakan lagu-lagu seperti like a daydream, taste, vapour trail, leave them all behind dan vapour trail. Benar-benar suguhan yang memuaskan. Akhirnya tibalah di puncak acara, semua orang sudah menunggu penampilan band yang satu ini. The milo sebagai My Bloody Valentine. Diawal mereka membuka penampilan dengan membawakan come in alone lalu dilanjutkan anthem buat para penggemar MBV yaitu, when you sleep. Setelah lagu when you sleep selesai, para penonton mulai meneriakan judul-judul lagu milik MBV. Ada yang teriak strawberry wine, another rainy saturday, what you want dsb. Tapi tiba-tiba Aji Gergaji sang vokalis bilang kalo mereka cuma membawakan 2 lagu milik MBV dan disisa penampilan the milo membawakan lagu-lagu dari album terbaru mereka. Sedikit mengecewakan, karena mereka adalah band yang ditunggu-tunggu, salah satu pionir shoegaze lokal, dan tampil sebagai My Bloody Valentine yang merupakan band shoegaze paling dikenal para penonton. Tapi secara keseluruhan, penampilan The Milo malam itu benar-benar menunjukkan kalau mereka sudah berumur, sudah penuh dengan kematangan. Akhirnya selesai sudah acara malam itu, sebuah tribute akan sebuah era di awal 90, era yang muncul dari ranah inggris, dan hingga kini menjadi sebuah era yang menginspirasi banyak band termasuk band saya. Terlihat beberapa orang memakai flanel, jeans baggy dan all star dengan tatanan rambut ala thurston moore, membuat suasana malam itu benar-benar 90an. Salut buat Peter dan kawan-kawan yang sukses membuat acara ini begitu membludak. Gosipnya acara ini meraup keuntungan sampai 7 juta rupiah. wuiihh...Jarang-jarang buat acara bisa untung gitu. hehe. Saya juga bangga bisa jadi bagian dari acara ini. Tapi satu pesan dari saya, jangan sampai ini(baca :shoegaze) jadi sebuah tren dan akhirnya ditinggalkan seperti yang sudah-sudah.
cheers!!!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar